Kupang — Bencana gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) melumpuhkan berbagai fasilitas penting dan memicu kebutuhan mendesak akan penanganan medis bagi para korban. Merespons kondisi darurat tersebut, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bergerak cepat mendirikan posko tanggap darurat dan rumah sakit lapangan.
Dikutip dari informasi di media sosial, termasuk unggahan akun Instagram @obbyfernando, rumah sakit lapangan MDMC didirikan menggunakan deretan tenda biru besar. Fasilitas darurat ini dilengkapi ruang tindakan, ruang pengobatan, apotek, serta genset mandiri untuk memastikan layanan kesehatan kuratif dan pengobatan gratis berjalan optimal.
Di balik operasi kemanusiaan tersebut, terselip kisah toleransi yang hangat. Melalui unggahan akun Facebook Ninin Karlina, dua tenaga kesehatan (nakes) perempuan beragama Katolik, Sindi dan Vivi, memutuskan bergabung menjadi relawan medis MDMC.
Keduanya memilih mengesampingkan sekat perbedaan keyakinan demi satu tujuan mulia: membantu warga terdampak yang sedang membutuhkan pertolongan. Kehadiran Sindi dan Vivi menjadi bukti nyata sinergi lintas iman yang berjalan harmonis di garis depan penanganan bencana.
Aksi kolaborasi ini sejalan dengan pedoman Kepribadian Muhammadiyah sifat ke-9, yang menekankan pentingnya membantu pemerintah serta bekerja sama dengan berbagai golongan dalam memelihara dan membangun bangsa. Bencana di NTT mempertegas bahwa panggilan kemanusiaan melampaui batas latar belakang, di mana empati dan kepedulian bersama menjadi fondasi utama dalam memulihkan sesama.
.png)