-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Mantan Menteri Luar Negeri RI yang Memilih Hidup Melarat

Selasa, 15 September 2026 | September 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-16T00:45:08Z


Di tengah anggapan umum bahwa jabatan menteri identik dengan fasilitas melimpah dan hidup serba mapan, sejarah bangsa ini pernah mencatat sebuah anomali besar. Seorang mantan Menteri Luar Negeri yang disegani dunia internasional justru memilih jalan hidup yang jauh dari kata mewah, bahkan cenderung melarat hingga akhir hayatnya.


Sebagai diplomat ulung yang menguasai setidaknya sembilan bahasa asing, kepiawaiannya berunding diakui kawan maupun lawan. Perdana Menteri Belanda saat itu, Willem Schermerhorn, bahkan terang-terangan mengagumi kecerdasannya yang luar biasa, sembari menyematkan satu catatan: sepanjang hidupnya ia memilih hidup serba kekurangan.


Pilihan hidup bersahaja itu tercermin jelas dari penampilannya. Saat hadir dalam forum resmi kenegaraan, ia kerap mengenakan jas yang tampak kumal dan peci yang sudah usang. Selama menjabat menteri hingga masa pensiunnya tiba, ia tidak memiliki rumah pribadi. Ia dan keluarganya terbiasa berpindah dari satu kontrakan sederhana ke kontrakan lain, melewati jalanan gang sempit yang becek dan berlumpur di musim hujan.


Ujian terberat ketulusan itu tampak saat salah satu buah hatinya meninggal dunia. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia bahkan tak mampu membeli kain kafan baru. Tanpa keluh kesah, ia dengan tenang mengambil taplak meja dan kelambu bekas pakai untuk membungkus jenazah sang anak. Ketika ada kolega yang berniat memberikan kafan baru, tawaran itu ditolak secara halus; baginya kain baru jauh lebih berguna bagi mereka yang masih hidup di dunia.


Ia wafat pada November 1954 dan dimakamkan dengan upacara kenegaraan penuh haru di TMP Kalibata. Kisah sang mantan menteri menjadi cermin keras bagi siapa saja yang memangku kuasa: bahwa kehormatan sejati seorang pejabat publik diukir dari integritas dan kerelaan berkorban, bukan dari tumpukan harta benda.

Sumber: CNBC Indonesia

×
Berita Terbaru Update